Langsung ke konten utama

Kajian Terhadap Hal-hal ‘Baru’ dalam Pupuh Raehan Yus Wiradiredja

Oleh
Dede Risnandar

Abstraksi

 

Pupuh raehan merupakan salah satu produk kreatif yang dilatarbelakangi oleh usaha antisipasi terhadap keadaan zaman yang semakin mengglobal. Tak dapat dimungkiri bahwa pengaruh musik Barat terkadang hadir pada setiap garapan musik yang terpicu oleh proses globalisasi. Konon katanya, saat ini musik Barat ternyata hampir mempengaruhi musik bangsa-bangsa di dunia. Analogi tersebut senada dengan yang terjadi pada pupuh raehan Yus Wiradiredja yang merupakan sebuah bentuk kolaborasi antara idiom musik Barat dan karawitan Sunda.

Berkaitan dengan hal itu, pada penyajian pupuh raehan ini sudah barang tentu terdapat hal-hal “baru” yang menunjang terhadap pemrbentukan struktur musikalnya. Permasalahan tersebut diuraikan melalui metode penulisan secara kualitatif yang pada pemaparannya berbentuk deskripsi, komparasi, dan analisis mengenai sejauh mana “kebaruan” yang terdapat dalam pupuh raehan Yus Wiradiredja.

Dalam karya musik baik sadar ataupun tidak sadar, meskipun ada yang berpendapat bahwa membuat sebuah karya musik “mengalir begitu saja”, akan tetapi menurut hemat penulis pendapat tersebut tidak semuanya benar, karena sebuah karya musik merupakan implementasi dari pengalaman musikal si pembuat karya itu sendiri. Sebagai sampel, Yus Wiradiredja yang notabene menguasai karawitan Sunda kemudian dalam perjalanan bermusiknya ia sedikit mempelajari musik Barat, selain itu ia juga aktif dan bergabung dalam group musik yang berkecimpung pada atmosfir kreatif. Dari ketiga pengalaman empirik tersebut baik sadar ataupun tidak, ia akan menarik formulanya sendiri. Setelah mengalami pengendapan-pengendapan, pengalaman tersebut menghasilkan formula ‘baru’ dan seakan-akan selalu hadir dalam setiap karyanya, termasuk dalam pupuh raehan ini.

 

A.            Pendahuluan

Globalisasi dalam tubuh kesenian tradisional bukan merupakan ancaman, melainkan harus dipahami sebagai suatu tantangan yang harus diantisipasi. Antisipasi itu sendiri akan sangat tergantung dari kemampuan dan pengalaman seseorang dalam menghadapinya. Salah satunya adalah dengan menggabungkan idiom musik tradisional Indonesia dengan idiom musik Barat. Alasan yang sangat umum apabila ditanyakan kepada para senimannya adalah karena hal itu merupakan cara yang paling praktis dalam mengarungi kehidupan global. Walaupun pada dasarnya ada suatu hal yang negatif pula di dalamnya. Apabila hal itu terus dilakukan terus-menerus tanpa menghiraukan kehidupan seni tradisional yang ‘asli’, maka suatu saat musik tradisionalnya akan sukar dijumpai atau bahkan punah.

Analogi di atas tampaknya sering hadir pada garapan-garapan karawitan yang dilakukan oleh seniman yang mumpuni dalam dua idiom musik, yakni Barat dan karawitan Sunda. Demikian juga halnya yang terjadi pada pupuh raehan yang digarap oleh salah seorang seniman tembang Sunda cianjuran seperti Yus Wiradiredja. Proses kreatif yang dilakukan Yus Wiradiredja merupakan salah satu contoh kasus antisipasi dari keadaan zaman yang semakin mengglobal. Dalam hal ini agaknya Yus patut diacungi jempol karena penghargaannya terhadap unsur tradisional. Dia mampu berpikir global dan sedikit bertindak lokal dengan mengangkat pupuh Sunda.

Konsep dari pupuh raehan Yus Wiradiredja merupakan sebuah proses kolaborasi antara idiom musik Barat dan idiom karawitan Sunda. Walaupun demikian, dalam penyajiannya, dominasi idiom karawitan Sundanya terasa sangat kental. Selain itu, proses kreatif yang dilakukan oleh Yus Wiradiredja menggambarkan bahwa tradisi merupakan barang mentah yang dapat diseting kembali dengan sebebas-bebasnya berdasarkan kemampuan empirik  kreatornya.  

 

B.         Kiprah Berkesenian Yus Wiradiredja Sebagai Bahan Dasar Kreativitas

  1.    Kiprah dalam Tembang Sunda Cianjuran

Yus Wiradiredja[1] lahir di Cianjur pada tanggal 5 April 1960, dari pasangan R.A. Hanafiah Wiradiredja dan R. Mardiati. Ia masih memiliki garis keturunan R.A. Wira Tanu I (Dalem Cikundul) dari ayahnya yang secara tidak langsung merupakan salah satu tokoh tembang Sunda cianjuran. Karena menurut penuturannya, bahwa kerabat Dalem (menak) di Cianjur sudah barang tentu belajar mengenai tembang Sunda cianjuran.

Dibesarkan dalam sebuah lingkungan sosial yang notabene berkecimpung dalam seni tembang Sunda cianjuran, merupakan titik awal seorang Yus Wiradiredja memahami kesenian tersebut. Pengetahuan awal mengenai seni tembang Sunda cianjuran ia peroleh ketika umur 9 tahun melalui bimbingan ayahnya. Sang ayah yang merupakan salah satu tokoh tembang Sunda cianjuran, berupaya melakukan pembinaan dengan mewajibkan Yus Wiradiredja untuk latihan mamaos secara rutin seminggu dua kali. Jika dibandingkan dengan saudara kandungnya, dalam hal ini ayahnya cenderung lebih perhatian terhadap Yus Wiradiredja. Ia sering dimarahi oleh ayahnya apabila tidak melakukan latihan.

Oleh karena lingkungan sosial Yus Wiradiredja merupakan keluarga seniman tembang Sunda cianjuran, maka secara tidak langsung dalam proses interaksi sosialnya, Yus Wiradiredja banyak menerima dorongan atau sugesti dari ayahnya untuk mempelajari tembang Sunda cianjuran. Dorongan atau sugesti ternyata dirasakan begitu kuat apabila datangnya dari orang yang relatif ditokohkan dalam wilayahnya. Seperti yang diungkapkan oleh Basrowi (2005 :144) dalam tulisannya bahwa:

“Sugesti merupakan cara pemberian suatu pandangan atau pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga orang tersebut mengikuti pandangan atau pengaruh tersebut.  Proses sugesti lebih mudah terjadi apabila orang yang memberikan pandangan itu adalah orang yang berwibawa atau ditokohkan.”

 

Sugesti yang diberikan oleh ayahnya telah membentuk seorang Yus Wiradiredja menjadi seorang remaja yang piawai menyajikan vokal dalam tembang Sunda cianjuran. Sehingga titik awal karir kesenimanannya berlangsung ketika ia berusia 14 tahun dengan menjuarai pasanggiri tembang Sunda cianjuran piala Saodah Cup se-Jawa Barat. Di dalam komunitas tembang Sunda cianjuran, hal ini merupakan peristiwa yang fenomenal sekali, karena seorang peserta remaja mampu mengalahkan peserta dewasa.

Melalui tembang Sunda cianjuran inilah ia melanglang buana ke mancanegara, seperti Belanda, Belgia, Francis, Jerman, Malaysia, Australia dan Saudi Arabia. Hal ini membuktikan betapa berharganya kesungguhan seseorang ketika mendalami suatu bidang, sehingga hasilnya dapat dipetik di kemudian hari.

Modal kompetensi sebagai penembang melalui proses perjalanan waktu yang cukup lama dan panjang, secara tidak langsung menempatkan Yus Wiradiredja sebagai pemikir dan praktisi tembang Sunda cianjuran. Sehingga di dalam komunitas tembang Sunda cianjuran seorang Yus Wiradiredja dikenal sebagai seorang penembang yang sudah memiliki reputasi dan diakui eksistensinya sebagai penembang yang berkualitas. Di samping itu, ia juga dipercaya oleh DAMAS (Daya Mahasiswa Sunda)[2] sebagai juri sekaligus konseptor pasanggiri tembang. Saat ini Yus Wiradiredja tidak terlalu aktif sebagai praktisi akan tetapi lebih banyak terjun sebagai pemikir karena mungkin didasari oleh faktor usia.

 

2.    Pengetahuan Vokal dalam Musik Barat

Selain pengetahuan vokal dalam tembang Sunda cianjuran, Yus Wiradiredja pun pernah mengenal vokal musik Barat ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertam (SMP). Walaupun persentasinya jauh lebih kecil dibandingkan dengan pengetahuan vokal dalam tembang Sunda cianjuran, akan tetapi pada perjalanan karir bermusik Yus Wiradiredja, hal ini merupakan salah satu kekayaan pengalaman empiriknya.

Selain itu, ketika duduk di bangku Sekolah Pendidikan Guru (SPG), Yus Wiradiredja bersama teman-temannya membentuk group latin yang bernama Cariba Latin, dan Visco Live. Berkaitan dengan talentanya pada vokal musik Barat, ia juga sering melatih vokal group dan paduan suara. Ada sebuah hal yang paling menarik dari segudang pengalaman pada saat duduk di bangku SPG, hal tersebut adalah pada saat Yus Wiradiredja mengikuti lomba paduan suara. Ia sudah berusaha mencoba mengaransemen lagu “Merpati Putih” yang pada waktu itu dipopulerkan oleh Crisye menjadi bentuk paduan suara. Kendatipun tidak juara, akan tetapi yang penting di sini adalah mengenai daya rangsang kreatif yang timbul dari diri seorang Yus Wiradiredja.

 

3.        Kreativitas Yus Wiradiredja

Semangat berpetualang dalam atmosfir kreatif seorang Yus Wiradiredja semakin bertambah ketika ia memutuskan untuk melanjutkan studi di ASTI Bandung (sekarang STSI). Selain aktif membuat lagu dalam wilayah tembang Sunda cianjuran, kawih, dan pop Sunda, Yus Wiradiredja juga aktif dan pernah bergabung dengan group musik yang berjalan dalam koridor kreativitas, seperti Zitermania, Ganda Mekar, dan Dasentra. Ketika bergabung dengan Ganda Mekar, Yus Wiradiredja banyak mendapatkan stimulus dari Mang Koko[3], sehingga ia sering presentasi sekaligus konsultasi dengan Mang Koko mengenai susunan lagu yang dibuat olehnya. Selain Ganda Mekar, Dasentra pun memiliki peran yang penting dalam mempengaruhi wacana musikal seorang Yus Wiradiredja.

Ada kemungkinan dari pengalaman-pengalaman pernah bergabung dengan group-group inilah, menjadikannya seorang seniman yang selalu gelisah dalam wilayah kreatif. Sebagai seorang seniman ia tidak merasa puas dengan predikatnya sebagai penembang handal, lalu ia membentuk At-Thawaf, dengan menggabungkan idiom musik Sunda dan musik Barat yang merupakan berbentuk lagu bersyair Islami.

Adakalanya pengalaman spiritual menjadikan dorongan pada diri seseorang sebagai daya kreatif, seperti halnya dengan Yus Wiradiredja yang tergerak hatinya untuk membentuk sebuah kelompok musik dengan tujuan sebagai syiar Islam. Didasari oleh kesadaran sebagai seorang seniman yang sekaligus seorang insan yang religius, Yus Wiradiredja membentuk satu komunitas musik Islami yang diberi nama At-Thawaf. Penamaan At-Thawaf itu sendiri terinspirasi oleh salah satu rukun haji yaitu tawaf yang didalamnya mengandung makna filosofis tersendiri.

Setidaknya ada dua makna filosofis yang terkandung di dalam tawaf itu sendiri, di antaranya: Pertama, bahwa tawaf merupakan sebuah substansi kehidupan yang didalamnya mengandung sebuah perjuangan. Betapa tidak dalam proses membuat lingkaran tersebut, setiap jemaah haji harus berdesak-desakan dengan ribuan jemaah lainnya. Kedua titik awal dengan titik akhir sebuah lingkaran akan jatuh pada satu titik yang sama, artinya dengan membuat sebuah konfigurasi lingkaran pada saat tawaf  menggambarkan bahwa hidup itu akan kembali ke titik semula. Korelasi penamaan At-Thawaf itu sendiri hanya dapat dirasakan dalam syair-syair yang disusun oleh Yus Wiradiredja, karena jika dilihat dari segi musikal, kita hanya dapat merasakan idiom tembang Sunda cianjuran dan latinnya.

Berkat pengalamannya inilah, kemudian Yus Wiradiredja melirik lagu pupuh untuk dikemas ke dalam jiwa zaman masa kini. Lagu pupuh tersebut dikemas dalam bentuk aransemen dengan menggabungkan dua idiom musik, yaitu Sunda dan Barat, yang selanjutnya diketahui dengan nama pupuh raehan.

 

C.       Pupuh Raehan Yus Wiradiredja

1.        Pengertian Pupuh Raehan

Berbicara mengenai pupuh, secara tidak langsung mengingatkan penulis ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Pada saat itu yang paling melekat dalam benak penulis adalah mengenai melodi lagu atau sekar tembang dalam pupuh yang disajikan secara solo dengan iringan sederhana berupa instrumen kacapi siter. Kemudian pada saat penulis duduk di Sekolah Menengah Kejuruan bidang seni pertunjukan dengan program keahlian seni karawitan, penulis baru memahami bahwa pupuh merupakan sebuah aturan atau pola untuk membuat puisi atau rumpaka.

Ajip Rosidi, Edi S. Ekadjati, dan kawan-kawan dalam Ensiklopedinya menjelaskan pupuh ini dengan menyertakan anjuran untuk melihat pengertian dangding. Dangding merupakan basa ugeran atau puisi dalam bait-bait ikatan pupuh. Kemudian pupuh merupakan nama kesatuan basa ugeran yang telah tertentu jumlah (1) padalisannya setiap pada, dan telah tertentu jumlah (2) engang (suku kata) serta (3) vokal terakhir setiap padalisan tersebut (2000:526). Selain ketiga aturan tersebut, masih ada satu aturan yang ada dalam pupuh, yakni watak pupuh. Dari penjelasan tersebut jelas sekali bahwa pupuh secara tidak langsung mempunyai pengertian yang sama dengan dangding, karena secara implisit di dalam dangding itu terdapat macam-macam pupuh.

Sementara itu, ada pula yang berpendapat bahwa dangding itu mempunyai arti yang sama dengan tembang atau lagu. Sedangkan pengertian pupuh pada dasarnya merupakan suatu aturan. Seperti yang diungkapkan oleh R.I. Adiwijaya dalam Wiratmaja (209:143), adalah sebagai berikut:

“Ieu opat katerangan teh kalawan eces nuduhkeun yen anu disebut dangding teh nyokona dina wangunan pupuh. (catetan : katerangan lisan R.I. Adiwijaya, cenah kecap dangding teh sawanda jeung kecap-kecap dangdang, dendang, anu hartina tembang atawa lagu). Ari nu disebut pupuh enas-enasna mah aturan atawa ugeran. Aturan pikeun nyieun dangding.”

 

“Empat keterengan tersebut jelas sekali menunjukan bahwa yang disebut dangding dibentuk oleh pupuh. (Catatan: keterangan lisan R.I. Adiwijaya, bahwa kata dangding mempunyai arti yang sama dengan dangdang, dendang, yang artinya tembang atau lagu). Sedangkan yang disebut pupuh pada dasarnya merupakan aturan atau hukum. Aturan untuk membuat dangding.”

 

Dari pengertian bahwa pupuh merupakan aturan untuk membuat dangding, memang ada sedikit hal yang membingungkan mengenai pengertian dangding dan pupuh, karena secara implisit di dalam dangding terdapat bermacam-macam bentuk pupuh. Sementara itu, berbicara mengenai pupuh pada saat ini, menurut hemat penulis tidak hanya merujuk pada bentuk sastranya saja, akan tetapi secara langsung merujuk pula pada jenis pertunjukannya yang berbentuk sekar gending, bahkan ada pula yang berbentuk sekar saja. Hal ini menunjukan bahwa di dalam pupuh sudah mengalami perluasan makna. Oleh karena itu, untuk memudahkan pemahaman dalam tulisan ini, penulis akan menggunakan istilah pupuh saja.

Apabila dilihat dari arti kata, istilah “pupuh raehan” terdiri dari gabungan dua buah kata yaitu: “pupuh” dan “raehan”. Seperti yang telah dijelaskan di atas, istilah “pupuh” merupakan aturan atau pola untuk membuat puisi. Sedangkan istilah “raehan” berasal dari kata “raeh” (bahasa Sunda) yang berarti “menggubah”, setelah mendapat akhiran “an”, mengalami perubahan makna yang berarti merujuk pada hasil jenis kegiatan (proses kreatif) yang dilakukan seseorang. Dengan demikian, istilah “pupuh raehan” merupakan pupuh yang telah mengalami perubahan dengan cara digubah atau diaransemen. Perlu digaris-bawahi bahwa perubahan yang terdapat pada pupuh raehan Yus Wiradiredja, selain pada segi sastra, perubahan yang paling dominan dapat dirasakan dari segi musikal dan bentuk pertunjukannya.

Menurut Wiradiredja[4], garapan pupuh raehan ini, didasari oleh pemikiran yang berangkat dari situasi dan tantangan zaman yang kurang memihak pada budaya lokal. Hal itu dapat dilihat dari fenomena kesenjangan berupa respon pada dunia kaula muda, yang kecenderungannya lebih respek kepada musik yang berbau pop musik Barat. Untuk itu, Wiradiredja mencoba mengantisipasi persoalan yang sedang terjadi dengan cara mereduksi kemampuannya sehingga muncul pupuh raehan ini.

Pupuh merupakan salah satu potensi yang memiliki kearifan budaya lokal, baik secara sastra maupun secara musikal, bahkan sudah menjadi salah satu ciri khas dalam seni Sunda. Akan tetapi jika melihat kondisi remaja sekarang, Wiradiredja berasumsi bahwa dalam penyajiannya perlu adanya sentuhan kreativitas berupa aransemen. Pada satu sisi, ternyata musik Barat itu sudah mempengaruhi bangsa-bangsa di dunia. Menanggapi permasalahan tersebut, pada dasarnya para seniman karawitan sering melakukan berbagai solusi berupa akulturasi, termasuk yang dilakukan oleh Yus Wiradiredja dalam pupuh raehan ini. Pada praktiknya, akulturasi dilakukan dengan cara mengadaptasi dan mengadopsi idiom musik Barat yang dikombinasikan dengan idiom Sunda.

Alasan lain yang melatarbelakangi konsep aransemen yang dilakukan Yus Wiradiredja adalah anggapan bahwa karakter musik Sunda itu sedikit memberi jarak dengan pengalaman musik kaula muda pada saat ini, yang notabene banyak bersentuhan dengan musik Barat. Akibatnya, mereka cenderung mengerutkan dahi ketika mendengarkan atau mengapresiasi karya seni yang berbentuk “asli”. Oleh sebab itu, tidaklah heran jika harmoni musik Barat menjadi salah satu pilihan yang dilirik oleh Yus Wiradiredja sebagai alat untuk menjembatani pengetahuan empirik musikal pada anak-anak dan remaja pada saat ini. Pada dasarnya setiap manusia, baik anak-anak maupun dewasa memiliki tiga ranah kemampuan, yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kaitannya dengan garapan pupuh raehan ini, Wiradiredja beranggapan bahwa dunia anak-anak dan remaja terlebih dahulu perlu dirangsang ranah psikomotorik dan afektifnya sebelum masuk pada ranah kognitif. 

 

2.        Bentuk Pertunjukan

Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa seni pupuh pada umumnya disajikan secara solo dengan diiringi satu buah instrumen kacapi atau bahkan tanpa iringan sama sekali. Berbeda halnya dengan yang terjadi pada pupuh raehan yang pada praktiknya disajikan secara duet dengan menggunakan iringan beberapa instrumen yang termasuk ke dalam kategori ensambel sedang.

Jika dilihat dari penyajian pada pasanggiri pupuh tingkat SD, SLTP, dan SLTA se-Jawa Barat yang dilaksanakan tahun 2009 lalu, jelas sekali bahwa pupuh raehan ini sengaja disajikan di atas panggung. Artinya, sajian tersebut diharapkan dapat menghibur para penonton yang hadir di sana.

Ditinjau dari konteks pertunjukannya, pupuh raehan Yus Wiradiredja telah mengalami perkembangan dari pertunjukan pupuh pada umumnya, yaitu yang semula disajikan dalam konteks hiburan pribadi (kalangenan), selanjutnya disajikan dalam gedung pertunjukan.

 

Gambar 1. Pertunjukan pupuh raehan pada saat “Pasanggiri Pupuh tingkat SD, SLTP, dan SLTA”  di Hotel Banyu Alam, Kabupaten Garut (Sumber: dok. Endang Syarif)
                  


 

 

 

3.        Materi Sajian

Struktur penyajian vokal dalam pupuh raehan Yus Wiradiredja, pada dasarnya terdiri dari dua bentuk yaitu: (1) sekar irama merdika (ketukan tidak tetap) dan (2) sekar tandak (ketukannya tetap). Jika dikomparasikan dengan penyajian tembang Sunda cianjuran, penyajian bentuk sekarnya memiliki kesamaan pola. Pola tersebut dapat dilihat dari posisi sekar irama merdika (pupuh) yang penyajiannya ditempatkan di awal, kemudian untuk sekar tandak disajikan setelah sekar irama merdika (panambih).

Dari keseluruhan pupuh yang berjumlah 17, jumlah pupuh yang diraeh oleh Yus Wiradiredja terdiri dari 5 buah pupuh. Pupuh-pupuh tersebut di antaranya: “Kinanti”, “Balakbak”, “Makumambang”, “Pangkur”, dan “Magatru”. Walaupun demikian, laras yang digunakan dalam sajian pupuh raehan ini sangat menunjang sebagai bahan pembelajaran bagi dunia pendidikan, karena larasnya terdiri dari: salendro, degung, dan sorog.

Rumpaka (syair) yang digunakan pada penyajian pupuh raehan Yus Wiradiredja, bersumber dari pupuh buhun dan pupuh yang dibuat oleh Mang Koko. Rumpaka pupuh buhun digunakan pada pupuh “Balakbak”, “Pangkur”, dan “Magatru”. Sedangkan rumpaka yang dibuat oleh Mang Koko digunakan pada pupuh “Kinanti”, “Maskumambang”, dan panambih.

Pada umumnya pola struktur musikal pada setiap pupuh yang diraeh oleh Yus Wiradiredja hampir memiliki struktur yang relatif sama. Struktur itu terdiri dari kemunculan intro yang disajikan oleh beberapa instrumen kemudian ada sebagian lagu yang diikuti oleh intro vokal dengan cara bermain secara ansambel. Setelah itu, muncul sajian materi pupuh sebagai lagu utama. Pada bagian tengah, dihadirkan bahasa musik yang berbentuk instrumen atau dikenal dengan nama interlude, fungsinya sebagai jembatan musikal untuk menuju lagu panambih. Sementara itu, sebagai bagian akhir atau coda berbentuk melodis yang disajikan oleh instrumen dan vokal.

 

4.        Peralatan

Penyajian pupuh raehan Yus Wiradiredja dapat dikategorikan sebagai ensambel sedang. Mengapa demikian, karena alat-alat musik yang digunakannya relatif banyak yang terdiri dari kacapi siter(4 buah), kacapi rincik (3 buah), kacapi diatonis, biola (2 buah), suling, kendang, timbales, conga, bongo, bar chimes, bedug, dan beberapa perkusi lainnya. Dalam konteks mengiringi lagu, keseluruhan instrumen bermain secara ensambel dengan bingkai musikalitasnya dibangun secara semiorkestrasi, sehingga kesan dinamis muncul dari setiap pupuh yang disajikan.

Secara fisik, bentuk kacapi diatonis yang digunakan didesain secara khusus dengan ukuran yang lebih besar dari kacapi siter. Dilihat dari bentuknya, kacapi diatonis ini menyerupai gergaji yang merupakan pengembangan dari bentuk kacapi siter. Jumlah dawainya terdiri dari 30 dawai yang terdiri dari dawai untuk gitar bas dan gitar. Dawai paling tinggi menggunakan ukuran nomor 2 (B) untuk gitar. Sedangkan ukuran paling rendah menggunakan senar bas nomor 3 (A). Sementara itu, nada paling rendah adalah nada G, kemudian nada paling tinggi adalah nada A. Nada dasar yang digunakan pada pertunjukan pupuh raehan Yus Wiradiredja adalah dari G. Jika dikomparasikan dengan ukuran suling, nada dasar G ini kemungkinan diperkirakan berukuran antara 56-57 cm.

Pureut yang berjumlah 30 buah (konsekuensi logis dari jumlah dawai) merupakan baut yang sering digunakan untuk drum. Fungsinya masih sama seperti pureut yang terdapat pada kacapi siter, yaitu untuk menyetem dawai dengan cara diputarbalikan kea rah kiri atau kiri. Putaran pureut ke arah kanan (sesuai arah jarum jam) berfungsi untuk mengendurkan dawai (nada semakin rendah). Sedangkan putaran pureut ke arah kiri berfungsi untuk mengencangkan dawai (nada semakin tinggi).

Dalam penyajiannya, kacapi diatonis merupakan instrumen yang berperan sebagai pengiring dengan pola akor. Pola permainan akor ini dimainkan oleh kedua jari tangan yang dibagi menjadi dua bagian, tangan kiri berfungsi sebagai ritem dan tangan kanan berfungsi sebagai bas.

Selain kacapi diatonis, terdapat pula 2 buah bentuk kacapi yang relatif lebih kecil daripada kacapi diatonis yang dikenal dengan nama kacapi rincik dan kacapi siter. Kacapi siter dan kacapi rincik ini berfungsi sebagai melodi pada bagian intro atau interlude. Sedikit yang membedakannya yaitu pada saat lagu yang berirama merdika, kacapi siter ditabuh seperti pola tabuh pada permainan kacapi dalam tembang Sunda cianjuran. Pada saat mengiringi lagu terkadang menggunakan pola ngarincik seperti permainan rincik dalam tembang Sunda cianjuran. Selain itu, rincik dan kacapi siter ini ditabuh dengan pola unisound beserta instrumen lainnya.

Fungsi biola dan suling pada prinsipnya memiliki peranan yang sama yaitu berpola melodis pada saat intro, interlude, dan kanonis terhadap melodi lagu. Hanya saja nada-nada yang digunakan antara suling dan biola bersifat pararel dengan menggunakan pola akor.

Sementara itu, kelompok perkusi yang terdiri dari kendang, conga, timbales, bongo, tambourine, triangle, dan bedug berfungsi untuk membentuk irama yang menunjukan salah satu genre musik, misalnya: reggae, dan samba. Irama tersebut pada prinsipnya hanya sebagai acuan dasar, karena pada praktiknya irama-irama tersebut dimodifikasi berdasarkan wacana kreatif dari para pemusiknya. Selain itu, pola tabuh kendang tentunya masih menggunakan idiom-idiom karawitan Sunda, yaitu dengan menggunakan pola mincid  ketika mengiringi frase lagu tertentu.

 

5.        Pemain

Jumlah pemain pada saat pertunjukan pupuh raehan Yus Wiradiredja (pada saat pasanggiri) terdiri dari tiga orang pemain kacapi, dua orang pemain biola, pemain suling, kendang, bedug, conga, serta timbales masing-masing terdiri dari satu orang pemain. Sementara itu, jumlah vokalis terdiri dari dua orang (duet) yang merupakan konsekuensi logis dari contoh kaset yang diedarkan sebagai bahan acuan untuk pasanggiri.

Pemain alat musik pupuh raehan Yus Wiradiredja seluruhnya merupakan laki-laki. Oleh sebab itu, dalam konteks pertunjukan, kostum yang digunakan terdiri dari pangsi dengan ukuran besar (bisa dilipat menjadi ukuran kecil) dan baju batik dengan desain mirip baju muslim untuk laki-laki. Vokalis laki-laki menggunakan baju takwa, sinjang, dan bendo. Sementara itu, vokalis perempuan pada umumnya memakai kebaya lengkap, dengan sinjang dan sanggulnya. Selain itu, beberapa dari peserta ada yang berinisiatif untuk tampil beda dengan menggunakan baju pangsi lengkap beserta iketnya.

 

 

 

 

D.      Hal-hal Baru dalam Pupuh Raehan Yus Wiradiredja

1.        Bentuk Pertunjukan

Tidak dapat dimungkiri bahwa garapan pupuh raehan Yus Wiradiredja ini mampu menarik perhatian anak-anak dan remaja, serta tidak tertutup kemungkinan orang dewasa pun akan menyukainya. Hal itu dapat dibuktikan pada saat dilaksanakannya pasanggiri pupuh tingkat SD, SLTP, dan SLTA  di berbagai wilayah yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat tahun 2009 lalu.

Pasanggiri ini diikuti oleh siswa siswi sekolah dari perwakilan Kabupaten dan Kota yang ada di Jawa Barat. Dari keseluruhan tempat pasanggiri[5], penulis berasumsi bahwa para peserta pasanggiri tampaknya merasa senang membawakan lagu wajib dan pilihan. Pada umumnya, mereka membawakan lagu dengan posisi berdiri yang disertai dengan gerakan menari atau bergoyang. Bahkan, ada sebagian peserta yang mendramatisir sebagian lagu sesuai dengan isi rumpaka dari lagunya.

Sebelum para peserta menyanyikan lagu, pada umumnya mereka menari atau bergoyang. Ini pun akibat logis dari garapan iringan musik yang senantiasa menggunakan intro yang terdapat pada awal lagu serta interlude pada bagian tengah lagu. Fenomena ini  tentu saja merupakan salah satu ciri bahwa melalui sentuhan kreativitas, sesungguhnya lagu-lagu pupuh dapat diterima bahkan dinikmati oleh anak-anak dan remaja masa kini.

Sementara itu, para pemusik duduk menggunakan kursi, berdiri, dan duduk di stage (khusus pemain kendang). Posisi para pemain musik dibagi menjadi tiga kelompok utama, di antaranya: (1) kelompok kacapi, (2) kelompok biola, dan suling, dan (3) kelompok perkusi. Kelompok pertama tempatnya tepat di tengah bagian belakang panggung (berdekatan dengan back drop), sementara untuk kelompok kedua dan ketiga biasanya ditempatkan di samping kanan dan kiri dari posisi kelompok pertama. Hal tersebut bertujuan untuk mengontrol komunikasi antar pemain musik pada saat mengiringi lagu pupuh raehan.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa jumlah vokalis terdiri dari dua orang yang berpasangan (laki-laki dan perempuan). Hal ini merupakan akibat logis dari garapan lagu yang dikemas berdasarkan suara 1 dan 2, serta ada bagian-bagian lagu yang harus dibawakan oleh perempuan dan laki-laki.

 


Gambar 2. Salah satu penjiwaan pada yang dilakukan peserta pada saat membawakan lagu “Kinanti” yang rumpakanya bercerita tentang pesawat terbang (Sumber: dok. Endang syarif)
 


 

 

 

 


2.           Struktur Musikal dalam Pupuh Raehan Yus Wiradiredja

Pada dasarnya, dari kelima pupuh yang diaransemen, struktur musikalnya dibagi menjadi dua bentuk utama. Pertama, aransemen yang digarap berbentuk gabungan antara lagu pupuh dengan lagu panambihnya. Kedua, aransemen yang dilakukan hanya pada bentuk lagu pupuhnya saja (tanpa panambih). Pupuh yang termasuk ke dalam bentuk pertama terdiri dari: “Kinanti” dan “Maskumambang”. Sedangkan pupuh yang termasuk ke dalam bentuk kedua di antaranya: ”Balakbak”, “Magatru”, dan “Pangkur”.

Pada umumnya, penyajian pupuh buhun berbentuk sekar irama merdika. Berbeda dengan aransemen yang digarap pada pupuh raehan Yus Wiradiredja. Beberapa pupuh yang diaransemen memiliki kecenderungan menjadi berpola metrik (terikat ketukan). Hal ini merupakan salah satu perbedaan bentuk antara pupuh buhun dengan pupuh raehan. Kecenderungan sekar irama metrik  ini terdapat pada aransemen bentuk kedua, yakni: “Balakbak”, “Magatru”, dan “Pangkur”. Oleh sebab itu, pada penyajiannya pupuh-pupuh tersebut tidak disertai dengan lagu panambih.

Sementara itu, struktur musikal yang terdiri dari intro, pirigan lagu, interlude, dan coda digarap dengan menggunakan pola semiorkestra. Intro pada setiap pupuh disusun secara khusus atau dikenal dengan istilah gending macakal. Hal tersebut merupakan idiom yang membedakan pupuh raehan  dengan pupuh buhun, karena pada umumnya iringan pupuh buhun hanya dilakukan oleh satu buah kacapi saja. Komposisi yang terdapat pada pupuh buhun umumnya berbentuk pasieupan[6] dan dikait (panambih).

Dengan adanya intro dan iringan yang berbentuk kolaborasi anatara idiom karawitan Sunda dan musik Barat, sehingga hal itu dapat menggambarkan dinamisasi musikal pada setiap garapan pupuh raehan. Dari segi lagu, Yus Wiradiredja bereksplorasi dengan memanfaatkan teknik harmonisasi canon, kanonis, dan sekuen. Dengan demikian, lagu “Balakbak”, “Maskumambang”, “Kinanti”, “Pangkur”, dan “Magatru” yang sudah diproduksi dalam bentuk kaset tampak berbeda dari aslinya. Namun, lagu-lagu tersebut masih dapat dikenali sebagai lagu pupuh karena struktur melodi dasarnya relatif masih sama. Hanya saja ada sebagian aransemen pupuh yang dilakukan dengan cara menambah melodi lagu yang ditempatkan pada bagian awal (setelah intro). Hal ini dapat dilihat dari struktur melodi lagu pada lagu “Balakbak” di bawah ini:

 

        j0j t+ j1j 2     j3j 4     j5j !     5   .    0    j0j k03 1

            A – ya warung sisi ja – lan                                  ra me

         

              .    .    k2j1k23- 2     .    k5k.5     k.k5.     j5j 4         

                         Pi -    san                  ku nu   ja - jan ti

 

              j3j 4     j3j 4     j3j 2     3    j.j 3     3-   jj3-j 2   3         

              hothat nu ngaladangan              nu ja   -     ra – jan

 

              j.j 3     4    jj5j+5    5        

                   sukan            su – kan

 

Penggunaan idiom musik Barat pada pupuh raehan Yus Wiradiredja, dapat dibuktikan dengan adanya unsur akor, baik pada lagu maupun iringannya (pirigan). Dalam bentuk lagu, unsur akor dapat dilihat dari salah satu intro yang berbentuk melodi vokal yang terdapat pada aransemen lagu pupuh “Magatru”. Untuk lebih jelasnya, kita perhatikan pola melodi pada lagu pupuh ”Magatru” yang ditulis menggunakan sistem notasi angka musik Barat di bawah ini:

              6    4    3    .    4    6    /5   .

              #    !    7    .    !    @    #    .        

                             Hu  hu      hu               hu        hu        hu

 

              6    4    3    .    4    j!j 7     6    .

              #    !    7    .    !    @    #    .   

              Hu       hu        hu                    hu        hu        hu

 

 

Alasan penggunaan sistem notasi musik Barat pada notasi di atas, karena penulis belum menemukan sumber untuk melambangkan nada di antara (5+)leu dan (5) la. Sebagai bahan perbandingan, di dalam musik Barat, nada 5+ (leu) pada laras sorog memiliki kemiripan dengan nada 5(sol). Sedangkan nada 5 (la) pada laras sorog memiliki kemiripan dengan nada 6 (la). Sementara itu, nada yang terletak di antara nada 6 (la) dan 5 (sol) ditulis  dengan angka /5 (sel). Keberadaan nada /5 (sel) pada aransemen lagu “Magatru” di atas merupakan salah satu indikasi penggunaan harmonisasi musik Barat.

Sementara itu, jika kita mengkomparasikan antara notasi angka musik Barat dengan karawitan Sunda, maka akan ditarik kesimpulan sederhana seperti tabel di bawah ini:

 

 
Sorog
#
#-
@
!
5+
5
4
3
Na
Ni
Mi
Da
Leu
La
Ti
Na
 
Degung
!
5+
5
4
3
3-
2
1
Da
Leu
La
Ti
Na
Ni
Mi
Da
 
Musik Barat
1
2
3
4
5
6
7
!
Do
Re
Mi
Fa
Sol
La
Si
Do

Gambar 3. Tabel kemiripan tangga nada atau laras
 
 
                       


 

Korelasi anatara kedua sistem tersebut dapat digunakan untuk dasar pirigan yang berbentuk kolaborasi (Barat dan Karawitan Sunda). Salah satu contohnya pirigan intro pada pupuh “Magatru”, ketika melodi lagu jatuh pada nada 4 (Ti), pirigan kacapi diatonis tidak lantas jatuh pada 7 (Si), melainkan pada nada 3 (Mi) karena nada tersebut masih akor dari nada 4 (Ti) atau 7 (Si) pada musik Barat.

 

3.        Alat Musik

Pada saat pertunjukan, terkadang sound system sering kurang mendukung terhadap alat-alat yang bersifat akustik, misalnya instrumen kacapi, pada saat pertunjukan berlangsung, volume suaranya kurang keluar. Berangkat dari alasan tersebut, salah satu pemain kacapi berinisiatif menggunakan kacapi elektrik yang bertangga nada  diatonis[7]. Jika kita merujuk pada penggunaan tabel kemiripan laras di atas, maka fungsi sebagai iringannya sangat fleksibel, karena selain dapat digunakan untuk mengiringi lagu yang berlaras sorog, juga dapat digunakan untuk mengiringi lagu yang berlaras degung.

Secara fisik, bentuk kacapi diatonis merupakan pengembangan dari kacapi siter. Berbeda dengan kacapi siter pada umumnya, ukuran kacapi diatonis lebih besar daripada kacapi siter, yaitu sekitar 40 cm untuk panjangnya dan sekitar 110 cm untuk lebarnya. Perbedaan lain terletak pada badan (awak) kacapi, jika pada kacapi siter pada umumnya badan (awak) konstruksinya berbentuk lebih tebal yang berfungsi sebagai resonator, maka pada kacapi diatonis ini badan (awak) kontruksinya lebih tipis karena hanya menggunakan kayu tipis namun padat yang didesain tanpa resonator (kacapi elektrik). Oleh sebab itu, kacapi elektrik baru terdengar nyaring apabila ditunjang oleh peralatan lain seperti pick-up, jek to jek, dan amplifier.

Pick-up merupakan peranti yang berfungsi mengubah energi fisik getaran senar menjadi energi listrik untuk kemudian diteruskan ke amplifier dan diubah menjadi gelombang suara yang dapat terdengar. Kacapi diatonis ini dibagi menjadi dua chanel jek (bass dan rhytm), maka jenis pick-up yang digunakan pun terdiri dari dua jenis, di antarannya (1) pick-up untuk bass gitar yang berdawai 5 dawai sebanyak dua buah, dan (2) double pick-up (humbucking) untuk gitar sebanyak tiga buah. Sementara itu, pick-up diletakan pada badan (awak) kacapi dengan posisi berdekatan dengan tumpang sari (sebelah kanan).

Selain pick-up, peranti lain yang mendukung terhadap kualitas suara kacapi diatonis ini adalah potensio yang terdiri dari volume, treble, midle, dan bass. Posisi potensio diletakan pada bagian paling ujung sebelah kanan dari kacapi (sebelah kanan pureut). Jika ingin menambah volume suara, potensio diputar ke arah kanan (searah dengan putaran jarum jam), sebaliknya jika ingin mengurangi volume suara, potensio diputar kea rah kiri.

Di bagian atas kacapi terdapat penyangga dawai yang biasanya disebut inang. Inang pada kacapi siter pada umumnya berbentuk seperti pion catur, sedikit berbeda dengan inang pada kacapi diatonis, bentuknya pipih memanjang dengan bagian penyangga yang bersentuhan dengan dawai dibubuhi dengan logam yang biasa digunakan untuk prêt gitar.

Sementara itu, dawai yang terdapat pada kacapi diatonis ini dibagi menjadi tiga wilayah nada, di antaranya: high, middle dan bass. Masing-masing wilayah nada memiliki jumlah dawai yang berbeda-beda, misalnya untuk high berjumlah 10 dawai, middle berjumlah 8 dawai, dan bass berjumlah 12 dawai. Hal tersebut disebabkan oleh penggunaan nada yang dibutuhkan mengalami penyesuaian dengan ukuran dawai.

Untuk lebih jelasnya, kita perhatikan gambar kacapi diatonis di bawah ini:

 

 
 
Inang atau Susu
Wilayah dawai untuk bass
Wilayah dawai untuk rhytm atau melodi
 
 
 
Pick-up untuk dawai bass
Pick-up untuk dawai rhytm atau melodi
Tumpangsari
Lubang jek to jek
Pureut
Potensio
 

 

Gambar 3. Bagian-bagian kacapi diatonis (Sumber: dok. Dede Risnandar)

 

Penggunaan perkusi latin berupa conga, bongo, dan timbales merupakan salah satu idiom yang membedakan antara pupuh buhun dengan pupuh raehan  Yus Wiradiredja. Menurut salah satu personil yang memegang instrumen conga[8], beat atau irama yang digunakan dalam mengiringi lagunya terdiri dari: guaguangco, bomba, dan mambo. Salah satu contoh penggunaan beat guaguangco dan bomba terdapat pada iringan lagu  pupuh “Balakbak”. Sementara itu, beat mambo digunakan untuk mengiringi lagu pupuh “Kinanti”.

Selain itu, ada pula penggunaan beat yang memiliki kemiripan karakter dalam idiom ritemnya (rhythm), beat yang dimaksud dikenal dengan nama reggae. Jenis musik reggae yang berasal dari Jamaika, pada praktiknya merupakan perpaduan soul, gospel, R&B, ska, serta irama tradisional Afrika dan Amerika Latin. Jika dianalisis secara sederhana, antara ritme (gitar atau organ) pada penyajian reggae dengan penyajian ritme kemprangan instrumen bonang pada penyajian gamelan kiliningan memiliki kemiripan pola ritme. Mungkin saja hal inilah yang melatarbelakangi sehingga dijadikan bahan pertimbangan untuk menggunakan irama reggae ke dalam aransemen pupuh Yus Wiradiredja ini.

Sementara itu, pada dasarnya penggunaan biola pada penyajian karawitan Sunda bukan merupakan wacana baru, karena hal tersebut sudah dilakukan oleh beberapa seniman. Sampel audio mengenai penggunaan biola dalam penyajian karawitan Sunda dapat kita temukan dalam rekaman audio  kacapi jenaka Adang CS dan album Bentang Kuring (tembang Sunda cianjuran) yang masing-masing diproduksi oleh Jugala Record. Hal ini terjadi karena secara musikal, biola juga dapat menghasilkan idiom-idiom yang terdapat dalam karawitan Sunda yang berfungsi sebagai pengganti rebab. Oleh sebab itu, sebagian orang sering menyebutnya biola Sunda atau piul.  

Pada praktiknya, dalam penyajian pupuh raehan Yus Wiradiredja, idiom musik yang dihasilkan oleh biola  terdiri dari dua bentuk di antaranya: bentuk musik Barat dan karawitan Sunda. Penggunaan idiom musik Barat dapat dilihat dari penggunaan harmonisasi berupa akor yang berbentuk melodi pararel dengan suling dan biola 2. Sementara itu, idiom karawitan Sunda, terasa sangat kental pada penyajian aranesemen pupuh “Pangkur” yang berlaras salendro.

Selain itu, dari segi musikal yang dihadirkan oleh sebagian frase melodi biola, Yus Wiradiredja bereksplorasi dengan teknik canon, canonis, dan sekuen. Sehingga pada akhirnya, jika dilihat secara keseluruhan mengenai struktur musikal semuanya menggambarkan ciri khas (karakter) musik “gaya” Yus Wiradiredja. Karakter musik yang disusun oleh seorang kreator merupakan akumulasi serta reduksi dari seluruh pengalaman empirik sang kreator. Walaupun pada praktiknya, tidak menutup kemungkinan terkontaminasi oleh masukan-masukan dari para pemusik yang mendukung dalam rangka menyusun karya pupuh raehan ini.    

 

4.        Rumpaka

Perubahan dalam struktur pupuh, pada dasarnya telah dilakukan oleh para karuhun sejak dulu kala. Perubahan itu dapat dilihat dari segi suku kata (guru wilangan), dan karakter pupuh. Hal ini senada dengan pendapat Apung S. Wiratmaja (2009:143) yang sudah dialihbahasakan oleh penulis, dalam tulisannya sebagai berikut:

 

“Jika berbicara mengenai pupuh, tentunya keempat aturan tersebut harus ditaati, tidak boleh dilanggar. Tetapi di dalam tembang Sunda cianjuran (dalam praktik nembang) pada umumnya aturan-aturan pupuh tersebut banyak yang diabaikan, bahkan ada yang lebih ekstim tidak mengindahkan aturannya. Kita lihat contoh pupuh Asmarandana yang biasa ditembangkan dalam randegan gancang:

 

                                    Ka mana ngaitkeun pikir

                                    Moal paler ku sabulan

                                    Unggal poe sok kadenge

                                    Moal beunang dihalangan

                                    Da pikir mah henteu tega, sanajan

                                    Sanajan satutup umur, abdi mah

                                    Abdi mah narah papisah

                                    Abdi mah narah papisah

 

Dari guguritan di atas, perubahan itu dapat dilihat pada baris ke-5 yakni dengan adanya penambahan kata “sanajan”. Selain itu pada baris terakhir atau “abdi mah narah pisan” diulang menjadi dua kali, sehingga jumlah bait (pada) yang seharusnya 7 bait menjadi seperti 8 bait. Hal ini disebabkan oleh penyesuaian guguritan terhadap melodi lagu randegan gancang yang keberadaan melodinya sudah terbentuk sedemikian rupa dengan kompleksitas aturan pula.

Sementara itu, perubahan yang terjadi dalam watak atau karakter dari pupuh sering terjadi pada tembang Sunda cianjuran. Salah satu contohnya pada pupuh Sinom yang menurut aturan bahwa wataknya harus gembira. Kita lihat contoh lagu Tejamantri yang menggunakan pupuh Sinom di bawah ini:

 

Bet abdi guling gasahan

Mikiran pangajak ati

Pengkuh sok hoyong nepangan

Padahal ana dipikir

Najan sering pulang anting (lebih satu engang)

Taya bahanna dikabul

Rumaos teu kasaratan (lebih satu engang)

Anggoeun panglipur galih

Nu puguh mah, nu puguh mah ngan nyiksa badan badan sorangan ( lebih empat engang)

 

Sementara itu, penambahan rumpaka semacam itu, dalam pupuh raehan Yus Wiradiredja pun terlihat jelas sekali. Salah satu contohnya  terdapat dalam pupuh “Magatru” yang pada penyajian awal lagu mengalami penambahan rumpaka (syair). Untuk lebih jelasnya, kita perhatikan pupuh “Magatru” di bawah ini:

 

Hayu batur urang tatarucingan

Urang ngasah akal jeung pikiran

Urang kudu cerdas reujeung pinter

Ulah dibobodo ku anak deungeun

Mun jadi jalma nu bodo

Rugi kacida pisan

 

Hiji tokoh dongeng Tangkuban Parahu

Ngudag-ngudag Dayang Sumbi

Teu yakin eta the Indung

Dibejaan keukeuh julig

Dasar anak nu bedegong

 

Kota naon di lingkung ku gunung-gunung

Kota kembang nu kawarti

Di dongdon pada ngajugjug

Daratang nyiar pangarti

Coba teguh kota naon

 

Dari contoh kasus di atas, setidaknya hal itu dapat mengingatkan kepada kita bahwa ternyata celah kreativitas itu muncul, meskipun dibatasi oleh aturan-aturan yang kadang mengebiri daya kreatif manusia.

E.       Kesimpulan dan Saran

1.        Kesimpulan

Proses kreatif yang dilakukan oleh Wiradiredja merupakan salah satu contoh kasus antisipasi dari keadaan zaman yang semakin mengglobal. Dalam hal ini agaknya Wiradiredja patut diacungi jempol karena penghargaannya terhadap unsur tradisional. Dia mampu berfikir global dan bertindak lokal dengan mengangkat seni pupuh menjadi sebuah bentuk pertunjukan. Pertunjukan ini menggambarkan bahwa tradisi merupakan barang mentah yang dapat diseting kembali dengan sebebas-bebasnya berdasarkan kemampuan empirik seorang kreatornya. Hal ini menunjukan bahwa setiap orang memiliki hak individu dalam keterikatannya dalam kehidupan sosial. Selain itu, hal tersebut menunjukan pula bahwa setiap unsur budaya harus senantiasa dinamis apabila kita ingin menjaga kelangsungan hidupnya. 

Berkaitan dengan pengalaman empirik bermusik yang diperoleh Wiradiredja, menurut hemat penulis konsep garap pada pupuh raehan ini kental sekali dengan unsur subjektivitas kreatornya. Hal tersebut senada dengan pendapat Saini K.M yang menyebutkan bahwa pendekatan seni itu bersifat subjektif dan imajinatif. Yang dimaksud subjektif adalah bahwa didalam mendekati  realitas seorang seniman tidak mengenyampingkan atau menghapus kepribadiannya. Berbeda dengan filsuf dan ilmuwan, seniman justru mempergunakan kepribadiaannya sebagai perangkat untuk mendekati realitas itu. Ia mengikutsertakan seleranya, penilainnya, perasa-perasaannya, kecenderungan-kecenderungannnya didalam pergulatannya dengan realitas itu (2001:51-52). Oleh sebab itu dalam melihat dan menghayati sebuah karya seni, berarti pula kita sekaligus melihat sosok pribadi sang seniman dengan segala pengalaman pribadinya.

Yus Wiradiredja adalah salah seorang penembang yang notabene hidup dan dibesarkan dalam lingkungan seni tembang Sunda cianjuran, yang pada perjalanan karir bermusiknya ia pernah mengenal dan mempelajari idiom musik Barat. Tidaklah mengherankan jika ia menginterpretasikan kembali sajian seni pupuh dengan bahasa musik berdasarkan pengalaman empiriknya. Perlu diketahui bahwa hal yang paling penting dalam sebuah pertunjukan musik adalah pengalaman empirik individu, karena seperti yang dijelaskan di atas, bahwa kepribadian seorang seniman akan muncul melalui karya-karyanya.

Dalam karya musik baik sadar ataupun tidak sadar, meskipun ada yang berpendapat bahwa membuat sebuah karya musik “mengalir begitu saja”, akan tetapi menurut hemat saya pendapat tersebut tidak semuanya benar karena sebuah karya musik merupakan implementasi dari pengalaman musikal si pembuat karya itu sendiri. Sebagai sampel, seseorang yang notabene menguasai Karawitan Sunda kemudian dalam perjalanan bermusiknya ia mempelajari Karawitan Jawa (tuntutan kuliah di STSI Surakarta), selain itu ia juga rajin les piano dan menyukai musik barat. Dari ketiga genre musik (Sunda, Jawa, dan Barat) tersebut baik sadar ataupun tidak ia akan menarik formulanya sendiri. Setelah mengalami pengendapan-pengendapan formula tersebut menghasilkan formula ‘baru’ dan seakan-akan selalu hadir dalam setiap karyanya.

 

2.        Saran

Pro dan kontra terhadap sebuah wacana “baru” pada dunia karawitan Sunda pada dasarnya selalu sering sekali terjadi. Tanggapan miring dari pihak yang seakan-akan puas dengan menerima begitu saja terhadap pakem-pakem dalam sebuah kesenian (setia pada tradisi), saya kira jangan terlalu dipermasalahkan. Karena hal tersebut sifatnya wajar dan sangat manusiawi karena berkaitan erat dengan keadaan psikis dari orang tersebut. Kita ambil contoh kecil, bagaimana perasaan kita, jika melihat teman kita seorang wanita yang sering memakai rok mini, tiba-tiba pada suatu saat memakai jilbab, apa yang kita rasakan? Kagetkah, kagumkah, atau malah membencinya? Jawabannya tergantung pengalaman empirik kita. Begitu pula tanggapan terhadap pupuh raehan  ini.


Kesetiaan pada tradisi itu perlu dalam menjaga stabilitas. Warisan masa lampau memang merupakan suatu bekal atau potensi untuk masa depan yang masih terbuka bagi segala kemungkinan. Akan tetapi, warisan tersebut sekaligus juga merupakan suatu faktisitas yang memberi batas. Tradisi perlu diappropsiasikan (dijadikan milik diri) seraya dimodifikasi. Perkembangan hidup yang baik itu mengandaikan adanya tiga hal berikut: (1) adanya suatu norma atau patokan yang diterapkan untuk mengatur kegiatan (the infusion of pattern); (2) adanya penjagaan stabilitas; dan (3) adanya modifikasi.

 

Penjelasan Whitehead di atas, seolah-olah menjelaskan modifikasi (antisipasi musik) yang ‘baik’ itu seharusnya memikirkan juga norma dan penjagaan stabilitas ke’tradisi’an, sesuatu hal yang paradoks memang, karena di satu sisi dalam berkarya kita seharusnya diberi kebebasan sebebas-bebasnya, tetapi di sisi lain harus memikirkan ‘pakem’ yang mengakibatkan terkebirinya kreativitas seseorang. Terlepas dari baik dan buruk dari ‘pakem’ tadi, alangkah lebih baiknya jika seorang kreator tidak berfikir melulu hanya pada idealisme saja, akan tetapi perlu juga memikirkan tentang kehidupan musik tradisional. Sehingga keberadaannya pun tetap ada tidak terancam oleh kepunahan. Jika tidak salah menilai, keberadaan pupuh raehan Yus Wiradiredja merupakan salah satu contoh antisipasi yang masih memperhatikan idiom-idiom yang terdapat pada karawitan Sunda.

Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa pupuh raehan ini merupakan salah satu antisipasi dari perkembangan zaman yang semakin mengglobal. Salah satunya adalah dengan menggabungkan dua idiom musik (karawitan Sunda dan musik Barat). Proses kreatif yang dilakukan oleh para praktisi alangkah lebih baiknya jika percampuran dua idiom musik itu mengetengahkan aspek balance, artinya dalam pengungkapan bunyi dari setiap idiom musik  tidak ada yang dominan. Keseimbangan dari pengungkapan dari masing-masing idiom musik tersebut akan menjadi nilai lebih bagi seorang kreator, karena hal tersebut memungkinkan tidak akan adanya tanggapan terlalu barat atau timur.

Daftar Kepustakaan

 

Apung S. Wiratmaja

2009       Salawe Sesebitan Hariring. Bandung: Kiblat Buku Utama.

 

Ayip Rosidi dan Edi S. Ekadjati, dkk

            2000    Ensiklopedi Sunda Alam Manusia dan Budaya. Jakarta: Pustaka Jaya.

 

Basrowi

            2005    Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia.

 

J. Sudarminta

2002  Filsafat Proses Sebuah Pengantar Sistematik Filsafat Alfred North Whitehead, Yogyakarta: Kanisius.

 

Koentjaraningrat

            1981    Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Radar Jaya Offset.

 

Saini K.M.

2001       Taksonomi Seni.Bandung: STSI Press.

 

 

Daftar Narasumber

 

1.      Nama               : H.M. Yusuf Wiradiredja, S.Kar., M.Hum.

Jenis Kelamin : Laki-laki      

Umur              : 50 tahun

Pekerjaan        : Staf pengajar di jurusan Karawitan STSI Bandung,

  merupakan maestro tembang Sunda cianjuran.

Alamat                        : Komp. Panyawangan Clouster Pinus 6 No. 10

                                      RT 005/023 Desa Cimekar, Cileunyi, Kab. Bandung.

 

2.       Nama              : Rizki Hamdani, S.Sn

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur              : 27 Tahun

Pekerjaan                    : Staf pengajar honorer di SD Al-Islam Bandung.

Alamat                        : Jl. Suryani Dalam 2 No. 101 B/83 Kota Bandung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Nama lengkapnya adalah M. Yusuf Wiradiredja.
[2] DAMAS merupakan sebuah organisasi yang sering mengadakan pasanggiri tembang Sunda cianjuran se-Jawa Barat.
[3]Mang Koko merupakan salah satu tokoh karawitan Sunda yang keberadaannya diakui dikalangan seniman Sunda khususnya kalangan akademis. Mendirikan organisasi kesenian yang bernama “Ganda Mekar”. Di dalam organisasi inilah seorang Yus Wiradiredja mendapatkan pengalaman dan rangsangan untuk berkarya sebagai pencipta lagu.
[4] Wawancara pada tanggal 20 November 2009.
[5] Pada saat hiburan setelah pasanggiri, penulis berperan sebagai pengisi acara (vokalis) dari group musik At-Thawaf  pimpinan H. M. Yusuf wiradiredja.
[6]Pasieupan merupakan pola tabuh yang sering digunakan pada permainan kacapi dalam tembang Sunda cianjuran. Dalam praktiknya, pola-pola tabuhan pasieupan dirangkaikan sedemikian rupa sehingga membentuk melodi yang pada dasarnya mengikuti alur melodi lagu (vokal).
[7] Informasi mengenai kacapi diatonis ini diperoleh dari hasil wawancara dengan salah satu pemain kacapi diatonis pada group At-Thawaf yang bernama Dede Risnandar.
[8] Wawancara melalui telepon seluler pada tanggal 19 Januari 2010.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Musik Islami: Antara Budaya Arab dan Aqidah

Oleh: Dede Risnandar   Pendahuluan Kurangnya pemahaman mengenai budaya luar yang masuk dan bersinggungan dengan budaya kita seringkali mengakibatkan berbagai permasahalan di dalamnya. Penghakiman secara sembarang sangat mungkin terjadi ketika menjelaskan hakikat dari pengertian yang sesungguhnya. Seperti halnya yang terjadi pada pengertian musik Islami yang sering diidentikan dengan tradisi musik Timur Tengah. Masyarakat kita sering terjebak pada pengertian bahwa musik Islami itu adalah musik yang memiliki citarasa dan tangga nada yang digunakan pada tradisi musik Timur Tengah (Arab, Turki, Persia, Mesir). Jika pengertian di atas dibiarkan terus-menerus terjadi, maka bagaimana halnya untuk menjelaskan peristiwa musik yang sebenarnya jauh dari tradisi musik Timur Tengah akan tetapi penggunaan syairnya menunjukan ketauhidan? Sebagai contohnya, banyak lagu yang kita kenal melalui rekaman audio dan video yang komposisi musiknya disusun menggunakan harmonisasi musik Barat. A...